KABAR UTAMA
light_mode

Jacob Ereste: Kebersamaan Menikmati Kemerdekaan yang Dicita-citakan

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Sabtu, 5 Sep 2026
  • visibility 40
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Hasrat menjadi negara dan bangsa yang demokratis, tapi tidak pernah mempersiapkan, tidak pernah mendidik dan tidak pernah benar-benar membiarkan rakyat untuk melakukan praktek demokrasi yang benar adalah realitas seperti partai politik yang tidak pernah serius dan ikhlas melaksanakan praktek demokrasi dalam mengelola organisasi partai, apalagi bagi pemerintah sendiri yang bahkan anti terhadap kritik dari rakyat.

Praktek demokrasi mulai dari partai politik sendiri sudah menimbulkan banyak pertanyaan, sejak pengurus partai politik birahi membangun budaya dinasti yang nyata sejak awal membangun partai hingga sekian periode sampai sekarang. Dan bisa dikata, hampir semua partai politik tidak pernah mampu melahirkan kader, kecuali dari trah atau lingkaran dang penguasa partai — setidaknya hanya dari lingkaran terdekat — penguasa partai yang bersangkutan. Konsekuensinya pun, partai politik melahirkan kader atas dasar trah — penguasa — yang juga bertarung keras untuk selalu berada di depan dan membelakangi calon kader yang tidak memiliki patron sebagai tempat bergantung untuk dapat naik ke wilayah puncak partai.

Kader partai politik yang tidak mampu dan tidak mau — atau tidak bisa membangun patron klien — akan selalu terkesan semacam anak tiri yang berjuang sendiri layak pendekar sedang mencari kesaktian diri untuk memiliki kemampuan mandraguna — agar bisa di arena pertarungan yang bersifat internal maupun eksternal. Jadi, budaya pertarungan bebas tumbuh liar dalam model demokrasi di Indonesia seperti di atena pertunjukan pertandingan Unlimited Fighting Champion.

Akibatnya, hanya untuk mereka yang kuat dengan power di atas rata-rata itulah yang memiliki peluang untuk menang. Karena itu, permainan dalam partai politik di Indonesia banyak dianggap oleh berbagai pihak masuk dalam katagori arena pertarungan bebas dan keras. Bahkan tidak jarang dalam prakteknya dilakukan dengan culas dan curang menghalalkan segala cara. Oleh sebab itu, dalam habitat patai istilah seni berpolitik itu nyaris tidak pernah ada nilai keindahan yang dapat dibanggakan, kecuali sebatas manuver yang mengagumkan cara penyelesaiannya.

Budaya demokrasi dalam lingkaran birokrasi Indonesia tampaknya tumbuh dan berkembang seperti tetumbuhan yang mendapat perlakuan berbeda antara yang ada dengan yang ada pot bunga yang terbuat dari porselin atau keramik. Setidaknya seperti itulah realitasnya dari kelas VVIP dengan klasifikasi biasa — seperti yang terjadi dalam budaya monarki birokratis kita — kendati agama telah memberi tuntunan bahwa kesetaraan sesama makmum itu tidak ada yang perlu dipertentangkan.

Demokrasi di negeri kita, seperti racikan menu baru yang dibuat dari bahan panganan yang sudah ada, sehingga cita rasa ketika saat menikmatinya jadi terkesan ganjil dan aneh, seperti menikmati spaghetti yang disandingkan dengan mei ayam yang harus dilahap dengan sumpit sambil menghirup kuahnya langsung dari mangkok. Keruan saja tentunya bukan hanya cara menikmatinya yang menjadi terkesan aneh dan janggal, tapi rasanya pun jadi terkesan kurang nikmatnya. Padahal esensi dari demokrasi itu sudah ada dalam sistem musyawarah mufakat dan gotong royong hingga tradisi gugur gunung dan budaya sesembayan kita yang sudah tumbuh subur sejak berabad-abad silam sampai hari ini, melampaui masa kejayaan sejumlah kerajaan besar yang dahulu ada di nusantara. Jadi budaya demokrasi yang baru populer setelah jaman republik diproklamirkan, menu lama yang diracik dengan menu baru membuat reaksi pencernaan jadi merasa asing dan tak mengenal apa yang harus dilahap dengan cara yang dipaksakan, tanpa pernah dilakukan proses pengenalan dan pemahaman untuk direnungkan esensinya.

Jika demokrasi itu adalah milik rakyat, sejak kapan demokrasi itu bisa berpindah kepada penguasa, sehingga menjadi rezim penguasa ? Terutama bagi Indonesia yang sesumbar ingin menjadi negara yang demokratis di dunia, sementara realitasnya banyak rakyat yang ditangkap ketika menyampaikan aspirasi ketika rakyat menuntut hak yang menjadi bagian dari miliknya yang sah dan legal harus dan wajib untuk dilindungi hukum yang harus dan wajib ditaati bersama, tanpa kecuali. Karena itu, atas nama rakyat, pemerintah tidak boleh bersikap semena-mena atas nama kekuasaan sekalipun seperti yang acap terjadi diberbagai tempat, tak hanya di Indonesia, karena sikap represif, otoriter, despotik, monokrasi dan zolim serta biadab.

Konsekuensi dari sikap seperti tersebut yang dibiarkan, akan dihadapi oleh rakyat dengan melakukan perlawanan tertutup maupun secara terbuka menjadi bar-barian. Apalagi sampai mendapat dukungan dari berbagai kalangan di ari mereka yang juga mengatasnamakan rakyat — intelektual, tokoh agama dan kaum aktivis serta kaum pergerakan yang munafik — tidak konsisten untuk menyuarakan bisikan suara hati nurani karena ingin cari selamat dan cuma untuk kenikmatan dirinya sendiri, kegaduhan hingga kerusuhan sosial pasti akan terjadi dan tidak terelakkan.

Karena itu, esensi demokrasi harus diwujudkan, tidak sekedar untuk pencitraan dan formalitas belaka dalam membangun negara dan bangsa yang berkeadaban. Karena negara dan bangsa adalah milik kita bersama. Karena setiap suku bangsa Nusantara berpegang pada satu kesepakatan bersama menjadi satu bangsa dalam satu negara Indonesia untuk menikmati kesejahteraan bersama yang adil dan beradab, tanpa diskriminasi dan pilih kasih.

Oleh karena itu setiap warga bangsa Indonesia — utamanya pemerintah sebagai penyelenggara negara wajib dan harus menjaga kebersamaan untuk menikmati kemerdekaan. Sebab semua Kakek dan Nenek dari para leluhur kita — yang telah berjuang dengan sepenuh hati dan ikhlas — tak khianat untuk kemerdekaan republik ini, berhak menikmati buah kemerdekaan, meskipun belum begitu manis dan lezat. Sebab hanta dengan begitu pemerintah sebagai penyelenggara negara akan mendapat dukungan dari rakyat dengan sepenuh hati.

Banten, 4 September 2026

  • Penulis: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Pilihan Redaksi

  • Laporan Dugaan Penipuan Rp1,5 Miliar Ditindaklanjuti Unit Harda Polres Metro Bekasi Kota

    Laporan Dugaan Penipuan Rp1,5 Miliar Ditindaklanjuti Unit Harda Polres Metro Bekasi Kota

    • visibility 35
    • 0Komentar

    BEKASI — Laporan dugaan tindak pidana penipuan dan/atau perbuatan curang yang dilayangkan terhadap seorang perempuan berinisial TR, yang disebut sebagai mantan calon legislatif dari Partai NasDem, kini ditindaklanjuti penyidik Unit Harda Polres Metro Bekasi Kota. Laporan tersebut dibuat pada 25 Januari 2026 melalui SPKT Polres Metro Bekasi Kota dengan Nomor: LP/B/241/I/2026/SPKT/Polres Metro Bekasi Kota. Kuasa […]

  • KM Virgo Transport 8 Terbalik Dihantam Ombak, 6 Meninggal 129 Belum Ditemukan

    KM Virgo Transport 8 Terbalik Dihantam Ombak, 6 Meninggal 129 Belum Ditemukan

    • visibility 36
    • 0Komentar

    Jakarta, intip24news.com – Kapal Motor (KM) Virgo Transport 8 yang mengangkut 243 orang, terdiri atas 30 kru kapal dan 213 penumpang terbalik di perairan Laut Jawa saat dalam perjalanan menuju Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Minggu (13/9/2026). Basarnas mengungkap kapal tersebut miring hingga akhirnya terbalik setelah dihantam ombak dari sisi kanan lambung kapal. Berdasarkan video yang diterima […]

  • Polresta Tangerang Imbau Warga Waspadai Abu Vulkanik Anak Krakatau, Ingatkan Pakai Masker

    Polresta Tangerang Imbau Warga Waspadai Abu Vulkanik Anak Krakatau, Ingatkan Pakai Masker

    • visibility 34
    • 0Komentar

    Tangerang, mitracakrawala.com – Polresta Tangerang mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi dampak sebaran abu vulkanik akibat aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau. Warga diminta mengutamakan keselamatan, menjaga kesehatan, serta mengikuti perkembangan informasi dari sumber resmi. Kapolresta Tangerang Kombes Pol Andi Muhammad Indra Waspada Amirullah mengatakan, masyarakat perlu mengambil langkah pencegahan apabila terjadi hujan abu vulkanik di […]

  • Asap, Oligarki, dan Peran Negara: Meninjau Ulang Oligarki Sawit dalam Pasung Ekologi

    Asap, Oligarki, dan Peran Negara: Meninjau Ulang Oligarki Sawit dalam Pasung Ekologi

    • visibility 48
    • 0Komentar

    Jakarta, mitracakrawala.com — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang memicu bencana krisis ekologi serta kabut asap tebal di Indonesia bukanlah murni bencana alam, melainkan dampak dari ekspansi oligarki perkebunan kelapa sawit yang didukung oleh pembiaran negara. Hal tersebut menjadi benang merah dalam Diskusi Publik yang diselenggarakan oleh Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI) bertajuk “Asap, Oligarki, […]

  • Antrean BBM Tak Kunjung Teratasi, Sekretaris PC PMII Kota Pekanbaru Desak Pemprov Riau dan Pertamina Bertindak

    Antrean BBM Tak Kunjung Teratasi, Sekretaris PC PMII Kota Pekanbaru Desak Pemprov Riau dan Pertamina Bertindak

    • visibility 28
    • 0Komentar

    PEKANBARU, mitracakrawala.com — Antrean panjang kendaraan untuk mendapatkan Bahan Bakar Minyak (BBM) di sejumlah SPBU di Kota Pekanbaru dan wilayah Riau hingga kini belum menemukan solusi yang konkret. Bahkan, sejumlah kendaraan dilaporkan harus mengantre hingga bermalam demi mendapatkan BBM. Kondisi tersebut mendapat sorotan dari Sekretaris PC Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Pekanbaru, Gusti Pardamean. […]

  • Wamendukbangga Tinjau WCD 2026 di Banten, Edukasi Kesehatan Mental Anak Jadi Perhatian

    Wamendukbangga Tinjau WCD 2026 di Banten, Edukasi Kesehatan Mental Anak Jadi Perhatian

    • visibility 46
    • 0Komentar

    TANGERANG SELATAN — Pembangunan keluarga berkualitas tidak semata-mata berbicara tentang perencanaan kehamilan dan pelayanan kontrasepsi. Fondasi keluarga juga dibangun melalui kesiapan mental, pemahaman kesehatan reproduksi, kemampuan mengelola emosi, serta pembentukan relasi sosial yang sehat sejak usia dini. Perspektif tersebut mengemuka saat Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Wamendukbangga) Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka meninjau rangkaian […]

expand_less