KABAR UTAMA
light_mode

Jacob Ereste: Kebersamaan Menikmati Kemerdekaan yang Dicita-citakan

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Sabtu, 5 Sep 2026
  • visibility 38
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Hasrat menjadi negara dan bangsa yang demokratis, tapi tidak pernah mempersiapkan, tidak pernah mendidik dan tidak pernah benar-benar membiarkan rakyat untuk melakukan praktek demokrasi yang benar adalah realitas seperti partai politik yang tidak pernah serius dan ikhlas melaksanakan praktek demokrasi dalam mengelola organisasi partai, apalagi bagi pemerintah sendiri yang bahkan anti terhadap kritik dari rakyat.

Praktek demokrasi mulai dari partai politik sendiri sudah menimbulkan banyak pertanyaan, sejak pengurus partai politik birahi membangun budaya dinasti yang nyata sejak awal membangun partai hingga sekian periode sampai sekarang. Dan bisa dikata, hampir semua partai politik tidak pernah mampu melahirkan kader, kecuali dari trah atau lingkaran dang penguasa partai — setidaknya hanya dari lingkaran terdekat — penguasa partai yang bersangkutan. Konsekuensinya pun, partai politik melahirkan kader atas dasar trah — penguasa — yang juga bertarung keras untuk selalu berada di depan dan membelakangi calon kader yang tidak memiliki patron sebagai tempat bergantung untuk dapat naik ke wilayah puncak partai.

Kader partai politik yang tidak mampu dan tidak mau — atau tidak bisa membangun patron klien — akan selalu terkesan semacam anak tiri yang berjuang sendiri layak pendekar sedang mencari kesaktian diri untuk memiliki kemampuan mandraguna — agar bisa di arena pertarungan yang bersifat internal maupun eksternal. Jadi, budaya pertarungan bebas tumbuh liar dalam model demokrasi di Indonesia seperti di atena pertunjukan pertandingan Unlimited Fighting Champion.

Akibatnya, hanya untuk mereka yang kuat dengan power di atas rata-rata itulah yang memiliki peluang untuk menang. Karena itu, permainan dalam partai politik di Indonesia banyak dianggap oleh berbagai pihak masuk dalam katagori arena pertarungan bebas dan keras. Bahkan tidak jarang dalam prakteknya dilakukan dengan culas dan curang menghalalkan segala cara. Oleh sebab itu, dalam habitat patai istilah seni berpolitik itu nyaris tidak pernah ada nilai keindahan yang dapat dibanggakan, kecuali sebatas manuver yang mengagumkan cara penyelesaiannya.

Budaya demokrasi dalam lingkaran birokrasi Indonesia tampaknya tumbuh dan berkembang seperti tetumbuhan yang mendapat perlakuan berbeda antara yang ada dengan yang ada pot bunga yang terbuat dari porselin atau keramik. Setidaknya seperti itulah realitasnya dari kelas VVIP dengan klasifikasi biasa — seperti yang terjadi dalam budaya monarki birokratis kita — kendati agama telah memberi tuntunan bahwa kesetaraan sesama makmum itu tidak ada yang perlu dipertentangkan.

Demokrasi di negeri kita, seperti racikan menu baru yang dibuat dari bahan panganan yang sudah ada, sehingga cita rasa ketika saat menikmatinya jadi terkesan ganjil dan aneh, seperti menikmati spaghetti yang disandingkan dengan mei ayam yang harus dilahap dengan sumpit sambil menghirup kuahnya langsung dari mangkok. Keruan saja tentunya bukan hanya cara menikmatinya yang menjadi terkesan aneh dan janggal, tapi rasanya pun jadi terkesan kurang nikmatnya. Padahal esensi dari demokrasi itu sudah ada dalam sistem musyawarah mufakat dan gotong royong hingga tradisi gugur gunung dan budaya sesembayan kita yang sudah tumbuh subur sejak berabad-abad silam sampai hari ini, melampaui masa kejayaan sejumlah kerajaan besar yang dahulu ada di nusantara. Jadi budaya demokrasi yang baru populer setelah jaman republik diproklamirkan, menu lama yang diracik dengan menu baru membuat reaksi pencernaan jadi merasa asing dan tak mengenal apa yang harus dilahap dengan cara yang dipaksakan, tanpa pernah dilakukan proses pengenalan dan pemahaman untuk direnungkan esensinya.

Jika demokrasi itu adalah milik rakyat, sejak kapan demokrasi itu bisa berpindah kepada penguasa, sehingga menjadi rezim penguasa ? Terutama bagi Indonesia yang sesumbar ingin menjadi negara yang demokratis di dunia, sementara realitasnya banyak rakyat yang ditangkap ketika menyampaikan aspirasi ketika rakyat menuntut hak yang menjadi bagian dari miliknya yang sah dan legal harus dan wajib untuk dilindungi hukum yang harus dan wajib ditaati bersama, tanpa kecuali. Karena itu, atas nama rakyat, pemerintah tidak boleh bersikap semena-mena atas nama kekuasaan sekalipun seperti yang acap terjadi diberbagai tempat, tak hanya di Indonesia, karena sikap represif, otoriter, despotik, monokrasi dan zolim serta biadab.

Konsekuensi dari sikap seperti tersebut yang dibiarkan, akan dihadapi oleh rakyat dengan melakukan perlawanan tertutup maupun secara terbuka menjadi bar-barian. Apalagi sampai mendapat dukungan dari berbagai kalangan di ari mereka yang juga mengatasnamakan rakyat — intelektual, tokoh agama dan kaum aktivis serta kaum pergerakan yang munafik — tidak konsisten untuk menyuarakan bisikan suara hati nurani karena ingin cari selamat dan cuma untuk kenikmatan dirinya sendiri, kegaduhan hingga kerusuhan sosial pasti akan terjadi dan tidak terelakkan.

Karena itu, esensi demokrasi harus diwujudkan, tidak sekedar untuk pencitraan dan formalitas belaka dalam membangun negara dan bangsa yang berkeadaban. Karena negara dan bangsa adalah milik kita bersama. Karena setiap suku bangsa Nusantara berpegang pada satu kesepakatan bersama menjadi satu bangsa dalam satu negara Indonesia untuk menikmati kesejahteraan bersama yang adil dan beradab, tanpa diskriminasi dan pilih kasih.

Oleh karena itu setiap warga bangsa Indonesia — utamanya pemerintah sebagai penyelenggara negara wajib dan harus menjaga kebersamaan untuk menikmati kemerdekaan. Sebab semua Kakek dan Nenek dari para leluhur kita — yang telah berjuang dengan sepenuh hati dan ikhlas — tak khianat untuk kemerdekaan republik ini, berhak menikmati buah kemerdekaan, meskipun belum begitu manis dan lezat. Sebab hanta dengan begitu pemerintah sebagai penyelenggara negara akan mendapat dukungan dari rakyat dengan sepenuh hati.

Banten, 4 September 2026

  • Penulis: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Pilihan Redaksi

  • Kejagung Geledah Sejumlah OPD Pemkot Bekasi: Bapenda, DLH hingga BUMD Kota Bekasi Disasar

    Kejagung Geledah Sejumlah OPD Pemkot Bekasi: Bapenda, DLH hingga BUMD Kota Bekasi Disasar

    • visibility 30
    • 0Komentar

    Kota Bekasi, mitracakrawala.com — Suasana di lingkungan Pemerintah Kota Bekasi mendadak menjadi perhatian menyusul tim penyidik Kejaksaan Agung (Kejagung) melakukan penggeledahan di sejumlah kantor Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi, Kamis (17/9/2026). Berdasarkan informasi yang dihimpun, penggeledahan berlangsung di tiga lokasi, yakni kantor Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Bekasi, kantor Pemkot Bekasi, dan kantor PT Migas Kota […]

  • Akankah Air Mancur Gantikan Monumen Alun-Alun Kota Serang

    Akankah Air Mancur Gantikan Monumen Alun-Alun Kota Serang

    • visibility 37
    • 0Komentar

    Kota Serang, mitracakrawala.com – Kota Serang kembali menghadapi perubahan pada salah satu ruang publik yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakatnya. Patung Monumen yang berada di kawasan Alun-Alun Kota Serang dihancurkan untuk kemudian dilakukan renovasi dan perubahan fungsi menjadi air mancur. Pembangunan dan penataan ulang ruang publik tentu bukan sesuatu yang salah. Kota memang perlu berkembang […]

  • Siapkan Pelatihan dan Pendampingan, HIPPI Jabar Dorong UMKM Naik Kelas

    Siapkan Pelatihan dan Pendampingan, HIPPI Jabar Dorong UMKM Naik Kelas

    • visibility 15
    • 0Komentar

    Bekasi, mitracajrawala.com – Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Jawa Barat menegaskan komitmennya memperkuat kapasitas pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), termasuk pengusaha lokal di Kota Bekasi. Komitmen tersebut mengemuka dalam Rapat Kerja Daerah (Rakerda) dan Business Forum DPD HIPPI Jawa Barat, Senin (28/9/2026). Kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antara dunia usaha, pemerintah, […]

  • Polres Balangan Ungkap Kasus Tindak Pidana Pembakaran Hutan dan Lahan di Kecamatan Juai

    Polres Balangan Ungkap Kasus Tindak Pidana Pembakaran Hutan dan Lahan di Kecamatan Juai

    • visibility 27
    • 0Komentar

    Balangan, mitracakrawala.com – Polres Balangan melalui Unit Tindak Pidana Tertentu (Tipiter) Sat Reskrim bersama personel Polsek Juai berhasil mengungkap kasus dugaan tindak pidana membuka dan/atau mengolah lahan dengan cara membakar yang mengakibatkan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Desa Sumber Rejeki, Kecamatan Juai, Kabupaten Balangan. Kegiatan pengungkapan kasus tersebut dipimpin oleh Kasat Reskrim Polres Balangan […]

  • Jambore Ormas 2026 Perkuat Sinergitas antar Ormas, IWOI Kota Tangerang Apresiasi Kesbangpol

    Jambore Ormas 2026 Perkuat Sinergitas antar Ormas, IWOI Kota Tangerang Apresiasi Kesbangpol

    • visibility 46
    • 0Komentar

    Jambore Ormas 2026 Perkuat Sinergitas antar Ormas, IWOI Kota Tangerang Apresiasi Kesbangpol Kota Tangerang, mitracakrawala.com — Ikatan Wartawan Online Indonesia (IWOI) DPD Kota Tangerang menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Tangerang yang telah memfasilitasi sekaligus memberikan undangan kepada IWOI untuk mengikuti kegiatan Jambore Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) 2026. […]

  • Majlis Zikir Anugrah dan Sholawat Gelar’ Peringatan Maulid Dihadiri Bupati Tangerang Maesyal Rasyid

    Majlis Zikir Anugrah dan Sholawat Gelar’ Peringatan Maulid Dihadiri Bupati Tangerang Maesyal Rasyid

    • visibility 57
    • 0Komentar

    Tangerang, mitracakrawala.com — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang penuh Khidmat berlangsung di Majlis Zikir dan Sholawat Anugerah pada Jum’at (28 Agustus 2026) malam. Acara yang dilaksanakan di halaman Rumah Abah Haji Enjuh kampung Kukun, Kelurahan Sukatani, Kecamatan Rajeg, Kabupaten Tangerang dihadiri Bupati H. Maesyal Rasyid. Selain bupati dan Haji Enjuh sebagai Sohibul Bait, hadir […]

expand_less