59 peserta dari dalam dan luar karangmojo berebut 2 kursi pamong kalurahan Bejiharjo
- account_circle Redaksi
- calendar_month 5 jam yang lalu
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Karangmojo, mitracakrawala.com –
Pagi itu, halaman SMPN 2 Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul, DIY, terasa lebih ramai dari biasanya.
Bukan anak-anak sekolah yang datang. Tapi puluhan anak muda dengan wajah tegang, membawa map, membawa pulpen, dan membawa harapan yang jauh lebih besar dari sekadar lulus ujian.
Mereka datang untuk satu tujuan: mengabdi menjadi Pamong Kalurahan Bejiharjo.
Kalurahan Bejiharjo, Kapanewon Karangmojo, menggelar Seleksi Tes Perekrutan 2 Pamong Kalurahan, yaitu Danarto dan Pangripto. Dua jabatan yang terlihat sederhana, tapi memiliki tanggung jawab yang sangat besar bagi kehidupan warga Bejiharjo.
Dua kursi. Puluhan pelamar. Satu hari penentuan.
dari 63 menjadi 59 yang 4 karena mengundurkan diri
Perjalanan seleksi ini sejatinya dimulai jauh sebelum hari test .
Awalnya, ada 63 orang yang mendaftarkan diri Angka yang luar biasa untuk sebuah kalurahan. Itu artinya, 63 anak muda Bejiharjo masih punya keinginan kuat untuk mengabdi di desanya sendiri, tidak melulu merantau ke kota.
Namun takdir berkata lain. Sebelum test dimulai, 4 orang mundur.
4 orang mengundurkan diri karena alasan masing-masing. Dan 1 orang mengalami kecelakaan, sehingga tidak bisa mengikuti test.
Bukan karena mereka tidak mampu. Bukan karena mereka tidak layak. Tapi karena keadaan yang memaksa mereka untuk berhenti sejenak.
“Kami turut prihatin. Bagi yang mengundurkan diri dan yang kecelakaan, kami doakan yang terbaik. Semoga masih ada kesempatan lain untuk mengabdi,” ujar salah satu panitia dengan nada haru.
Akhirnya, yang benar-benar hadir dan mengikuti test sebanyak 59 peserta.
Rinciannya:
- Pangripto: 26 peserta
- Danarto: 37 peserta
Total 63 pendaftar, dikurangi 4 yang tidak hadir, menjadi 59 pejuang yang bertahan di arena.
59 orang ini bukan sekadar angka , 59 ini adalah 59 cerita. Ada yang sudah berbulan-bulan belajar malam. Ada yang rela cuti dari pekerjaannya. Ada yang diantar orang tuanya dari pagi buta dengan doa yang tak putus-putus.
Lurah Bejiharjo, Sigit Wibowo Nugroho, hadir langsung memantau jalannya seleksi.
Dalam keterangannya, Sigit menjelaskan bahwa sistem test yang digunakan kali ini dirancang agar benar-benar transparan, adil, dan bisa dipertanggungjawabkan.
Test meliputi dua tahap besar:
- Test Tertulis (Pengetahuan umum)
Peserta mengerjakan soal secara komputer. Tidak ada lagi kertas yang bisa dititip-titip. Nilai langsung keluar dari sistem. Transparan dan tidak bisa diatur-atur. - Test Praktek (meng oprasionalkan komputer Exel sama Word)
Setelah tertulis, peserta diuji kemampuan praktek dan pengetahuan umum. Karena menjadi pamong itu bukan hanya soal pintar di atas kertas, tapi juga soal bisa bekerja di lapangan, bisa menghadapi warga, bisa menyelesaikan masalah.
“Sebelum test dilaksanakan, kami sudah adakan pembekalan dari panitia dan dari IRDA Kabupaten Gunungkidul. Jadi semua peserta sudah dibekali, sudah tahu aturan mainnya, sudah tahu apa yang akan diujikan. Kami ingin seleksi ini jujur dan bersih,” jelas Sigit Wibowo Nugroho.
Pembekalan dari Inspektorat Daerah (IRDA) Kabupaten Gunungkidul ini menjadi bukti bahwa Kalurahan Bejiharjo ingin seleksi ini berjalan sesuai aturan, tidak ada titipan, tidak ada main belakang.
Begitu test dimulai, suasana SMPN 2 Karangmojo berubah menjadi hening.
Di ruang CBT, hanya terdengar suara klik mouse dan desahan napas peserta yang menahan gugup. Ada yang mengusap dahi. Ada yang memejamkan mata sejenak sambil berdoa sebelum menjawab soal. Ada yang tersenyum lega setelah menyelesaikan satu soal yang sulit.
Di luar ruang, orang tua dan keluarga menunggu dengan cemas. Ada ibu yang menggenggam tasbih sambil terus berdoa. Ada bapak yang mondar-mandir di parkiran sambil menunggu kabar dari anaknya.
Inilah sisi humanis dari sebuah seleksi pamong . Di balik soal-soal CBT dan praktek, ada doa-doa orang tua yang berharap anaknya bisa lulus dan mengabdi di kampung halamannya sendiri.
Menjadi pamong itu bukan sekadar dapat gaji dan jabatan. Menjadi pamong itu berarti menjadi tempat warga mengadu saat ada masalah. Menjadi Danarto berarti mengurus keamanan, ketertiban, dan ketentraman warga. Menjadi Pangripto berarti mengurus administrasi, surat-menyurat, dan pelayanan yang menjadi urat nadi kalurahan.
Dua jabatan ini adalah dua pilar penting Bejiharjo.
Di akhir keterangannya, Lurah Sigit Wibowo Nugroho menyampaikan harapannya dengan tulus.
“Harapan saya, semoga test berjalan dengan lancar, tidak ada kendala apapun. Yang terpilih semoga menjadi pamong yang bisa bekerja sama dengan baik dengan pamong kalurahan lainnya, dan bekerja dengan baik sesuai tupoksinya,” ujar Sigit.
Kalimat itu sederhana, tapi maknanya dalam Bos ku.
Sigit tidak meminta yang terpilih menjadi orang yang paling hebat sendirian. Ia meminta yang terpilih menjadi orang yang bisa bekerja sama. Karena kalurahan tidak bisa dijalankan oleh satu orang superman. Kalurahan dijalankan oleh tim yang solid, yang saling mengerti, saling membantu, dan saling menguatkan.
Ia juga menekankan soal tupoksi. Bekerja sesuai tugas pokok dan fungsi. Danarto ya bekerja sebagai Danarto. Pangripto ya bekerja sebagai Pangripto. Tidak saling berebut wewenang, tidak saling lempar tanggung jawab.
Bagi 59 peserta yang hari itu berjuang, apapun hasilnya nanti, mereka sudah menjadi pemenang Bos ku.
Mereka sudah berani mendaftar. Mereka sudah berani datang. Mereka sudah berani bertarung secara jujur di hadapan 58 pesaing lainnya.
Bagi 2 orang yang nanti terpilih, perjuangan baru saja dimulai. Mereka akan memikul amanah ribuan warga Bejiharjo.
Dan bagi 57 orang yang belum terpilih, ini bukan akhir. Ini adalah pengalaman. Bahwa mereka pernah berjuang untuk desanya. Bahwa mereka pernah menaruh harapan untuk mengabdi.
Karena Bejiharjo tidak hanya butuh 2 pamong. Bejiharjo butuh 59 anak muda yang peduli, yang mau terlibat, yang mau memajukan kalurahannya, dengan atau tanpa jabatan.
Hari itu di SMPN 2 Karangmojo, bukan hanya test yang digelar. Tapi harapan baru sedang ditanam. Harapan bahwa Bejiharjo ke depan akan dipimpin dan dilayani oleh pamong-pamong yang jujur, transparan, dan mau bekerja sama untuk warganya.
(Red)
- Penulis: Redaksi





Saat ini belum ada komentar